Shelly Iskandar meraih gelar dokter dan psikiater dari Universitas Padjadjaran dan meraih gelar PhD dari Radboud University, Belanda dengan bidang kekhususan adiksi.

Saat ini menjabat sebagai Kepala Program Studi Psikiatri FK UNPAD/ RSHS, menjadi narasumber dan sering mengikuti berbagai forum seminar dan workshop dalam dan luar negeri, anggota Education Board International Society of Addiction Medicine (ISAM). Bekerja sama dengan pasien untuk menemukan solusi permasalahan kesehatan jiwa di RS Hasan Sadikin dan RS Melinda 2 melalui pendekatan modern dan traditional chinesse medicine (akupunktur). Akses lebih lanjut...


Cakupan Layanan Psikiatris Dokter Shelly Meliputi :-

  • Mood Disorders (Depression, Dysthymia, Bipolar affective disorder, among others),Anxiety Disorders and Obsessive Compulsive Disorders (OCD), Schizophrenia and other Psychotic Disorders .
  • Self Harm Behavior and Suicide Risk,Personality Disorders,ADHD (Child, Adolescent, Adult),Sleep Disorders,Eating Disorders.
  • Childhood and Adolescent Disorders including Pervasive Developmental Disorders (Autism, Asperger's, and others),Dementia and Cognitive Disorders, Alcohol and Substance Abuse, Couple Therapy, Perinatal and Postpartum Mood Disorders
// //

Gangguan Panik




Gangguan Panik merupakan kondisi  mental di mana muncul episode ketakutan secara mendadak  yang dapat meicu reaksi fisik yang cukup parah ketika tiada bahaya nyata atau penyebab rasional yang jelas. Gangguan Panik kadang dapat menjadi sangat menakutkan. Ketika penderita mengalami gangguan panin, penderita mungkin telah kehilangan kendali, berpotensi mengalami serangan jantung dan kondisi yang seolah olah sekarat.

Beberapa simptom gangguan panik termasuk:

  • Nafas Sesak/pendek
  • Pusing atau kepala ringan seolah mau pingsan
  • Sesak atau terasa sakit di dada
  • Gemetaran
  • Mulut berasa kering
  • Otot terasa kejang
  • Kesulitan dalam berpikir atau berbicara
  • Kesemutan jari jemari atau kaki
  • Perasaan tersedak atau tercekik
  • Badan Meriang panas dingin
  • Mual 
  • Perut Kram
  • Pandangan seolah olah kabur
  • Cemas seolah olah sekarat, kehilangan kendali atau menjadi marah


    Ketika penderita mengalami gangguan panik, penderita juga bisa khawatir akan implikasi gangguan panik  seperti perasaan merasa terhina atau merasa akan menjadi gila. Penderita hendaknya diusahakan menjauh dari situasi yang dapat memicu gangguan panik tersebut.

    Gangguan panik umunya diberikan perlakuan dengan metode terapi dahulu daripada medikasi. Dokter akan menjelaskan kepada penderita mengenai seluk beluk gangguan panik, misalnya, gangguan panik sebenarnya dapat dibedakan dengan gangguan kejiwaan yang bersifat psikosis. Hal ini dikenal sebagai psiko edukasi.


    Referensi :
    https://hellosehat.com/hidup-sehat/psikologi/pertolongan-pertama-pada-serangan-panik/

    Digest More
    // //

    Gangguan Kecemasan Umum

    Merupakan hal yang wajar bagi manusia jika terkadang merasakan cemas pada aktivitas sehari-hari seperti misalnya akan menghadapi ujian, masalah pekerjaan atau masalah keluarga. Meskipun demikian, ketika kecemasan itu terlalu berlebihan sehingga menyebabkan munculnya masalah dalam aktivitas kehidupan keseharian atau menjadi demikian parah, Anda dapat terpapar gangguan kecemasan. Gangguan kecemasan umum melibatkan suatu kondisi ketakutan yang irasional, seperti misalnya ketakutan akan bahaya yang akan menimpa diri Anda atau orang yang Anda cintai, mengenai masalah finasial, kesehatan, hubungan dan pekerjaan.

    Simptom-simptom yang dapat dijumpai secara fisik pada penderita kecemasan diantaranya:
    • Perasaan putus asa
    • Mudah merasa lelah atau sukar tidur dengan baik
    • Selalu merasa tegang dan kurang istirahat atau mudah marah
    • Merasa mual
    • Nafas terasa pendek pendek
    • Sakit kepala
    • Gemetar
    • Tegang otot
    Perlakuan umumnya melibatkan medikasi dan terapi.

    Dengan gangguaan kecemasan, perlakuan psikologis umumnya lebih efektif daripada medikasi, namun medikasi dapat membantu. Perlakuan paling umum adalah dengan memakai antidepresan atau benzodiazepine seperti aparazolam atau diazepam. Umumnya benzodiazepine tidak dianjurkan penggunaannya dalam jangka panjang, untuk menghindari ketergantungan.

    Gangguan kecemasan adalah kasus umum dalam populasi. Secara statistik diperkirakan 25% dari populasi mengalami beberapa gangguan kecemasana yang sebagian  darinya harus melakukan perlakuan dalam meningkatkan kualitas hidup mereka. Kecemasan dapat ditangani dan terapi atau medikasi  dapat meminimalisir efek dari  kurang baik yang ada dalam kehidupan dan hubungan antar manusia.


    Digest More
    // //

    Gangguan Bipolar



    Gangguan mood seperti depresi dan gangguan bipolar merupakan salah satu gangguan jiwa yang cukup sering terjadi. Gangguan bipolar juga dikenal sebagai gangguan jiwa yang memiliki fase ekstrim dari suasana perasaan (mood) seperti depresi dan manik. Gangguan bipolar bisa mulai terjadi pada saat anak-anak dan bersifat kronik. Faktor genetik juga berperan dalam terjadinya gangguan bipolar sehingga biasanya dapat ditemukan anggota keluarga lain yang juga menderita gangguan bipolar.

    Mania merupakan salah satu kondisi dalam gangguan bipolar - suatu kondisi suasana perasaan yang meningkat secara ekstrim dan kadangkala disertai dengan psikosi. Pikiran penderita begitu banyak atau terkadang berbicara begitu cepat sehingga sulit dimengerti orang lain. Penderita juga bisa mengalami masalah tidur pada malam hari atau menderita gangguan insomnia. Penderita pada umumnya melakukan berbagai kecerobohan seperti konsumerisme berlebihan, melakukan aktivitas sexual yang tidak aman atau tindakan agresi.

    Bipolar merupakan gangguan yang dapat timbul kembali dan belum diketahui tekni menyembuhkannya secara total, sehingga penderita mungkin perlu meminum obat untuk mempertahankan mood pada tingkatan yang normal.

    Hipomania merupakan gangguan yang dapat timbul kembali dan belum diketahui teknik penyembuhannya secara total sehingga penderita mungkin perlu mengkonsumsi obat untuk mempertahankan mood pada tahapan yang normal.

    Hipomania merupakan penanda dari bipolar II di mana pasien bisa merasakan sensasi eforia atau agitasi. Episode hipomania mirip dengan episode manik tetapi pada hipomania tingkatan gangguan lebih rendah keparahannya dan terkadang menimbulkan perasaan menyenangkan bagi penderita. Psikosis tidak dijumpai pada episode hipomania.

    Meskipun hipomania berpotensi meningkatkan produktivitas atau menimbulkan suatu perasaan harga diri yang positif, namun konsekuensinya dapat kemudian menjadi kurang menguntungkan, khususnya jika mood penderita memburuk mengarah pada depresi.

    Ada juga suatu keadaan yang merupakan kombinasi dari gejala manik dan depresi. Kombinasi dari situasi ini dapat menyebabkan perasaan sangat sedih, tertekan atau tanpa pengharapan pada penderita dan di saat yang sama mendadak bersemangat. Hal ini dapat membahayakan, sebab resiko bunuh diri terjadi dari perasaan yang sangat tertekan disertai dengan impulsivitas. Jika didapati kondisi penderita mengarah pada kombinasi manik dan depresi, hendaknya Anda sesegera mungkin menghubungi psikiater terdekat di lokasi Anda.

    Bipolar tipe I ditandai dengan sekurang-kurangnya satu episode mania yang dapat disertai episode-episode depresi. Juga terdapat kemungkinan adanya gejala piskotik dalam perjalanan episode manik. Bipolar tipe II ditandai dengan adanya hipomania dan tidak pernah terdapat gejala mania atau psikosis. Meskipun bentuk mania ini kurang membahayakan, episode depresinya mempunyai kecendrungan lebih memburuk, dan seringkali memicu keinginan bunuh diri pada penderita.

    Siklotimia merupakan gangguan spektrum bipolar di mana pada penderita ditemui gejala depresi minor yang berkepanjangan sekurang-kurangnya dua tahun diselingi dengan hipomania. Periode depresi sering ditandai dengan mudah tersinggung dan gelisah daripada perasaaan melankolik dan kehilangan energi.


    Bipolar lainnya yang tidak spesifik, secara sederhana didiagnosis jika terdapat gangguan bipolar yang tidak secara khas memenuhi salah satu kriteria gangguan bipolar dari yang telah diuraikan di atas. Terapi pada gangguan bipolar memerlukan obat-obatan seperti lamotrigin, sodium valproat dan quetiapin, dan disertai dengan proses pskoterapi untuk mengatasi pikiran-pikiran negatif yang dapat menimbulkan depresi.

    Dengan memandang gangguan bipolar sebagai penyakit kambuhan dan hingga saat ini belum ditemukan cara peyembuhannya secara total, penderita hendaknya menempuh proses medikasi seumur hidup untuk memperahankan mood dalam level yang normal. Di samping kenyataan ini, sesungguhnya banyak pasien yang dapat melakukan aktivitas hidupnya dengan baik, selama terus patuh terhadap terapi dan selalu sadar akan perubahan suasana hati yang terjadi.






    Digest More
    // //

    Depressi



    Dalam berbagai penelitian menunjukkan bahwa terdapat peran genetik bagi pemicunya depresi. Sebagai contoh, jika salah satu atau kedua orang tua atau kerabat lain dalam keluarga mengalami depresi maka kemungkinan Anda untuk menderita depresi juga menjadi lebih besar.

    Salah satu bentuk lain dari gangguan suasana perasaan (mood) adalah distimia. Distimia adalah bentuk kronik dari depresi yang terjadi ketika Anda mengalami depresi ringan sampai sedang dan berlangsung sedikitnya 2 tahun. Walaupun distimia menyebabkan masalah dalam aktivitas keseharian Anda, distimia tidaklah terlalu berat dan biasanya belum membutuhkan rawat inap. Perjalan penyakit yang menetap dan lama membuat anda percaya bahwa kondisi anda yang seperti saat ini adalah kondisi anda yang sebenarnya.

    Solusi untuk permasalahan depresi dan distimia adalah psikoterapi dan pemberian obat-obatan golongan anti-depresan. Banyak jenis obat anti depresan yang tersedia. Adakalanya anda tidak langsung cocok dengan salah satu anti-depresan tersebut. Anda dan psikiater anda perlu bekerja sama untuk menemukan obat anti-depresan yang paling tepat untuk anda.

    Anti-depresan yang sampai saat ini paling banyak digunakan adalah golongan selective serotinin reuptake inhibitors (SSRI) dan serotinin-neropinephrine reuptake inhibitors (SNRI). Penamaan golongan obat ini didasari pada neurotransmiter yang dipengaruhinya. Neurotransmiter adalah  zat kimia di otak yang memengaruhi suasana perasaan dan proses berpikir.

    Dalam penggunaan anti-depresan, penting sekali untuk tidak menghentikan pengobatan secara mendadak. Pengecualian adalah jika terjadi efek samping yang sangat serius. Jika terdapat efek samping, sebaiknya pasien segera menghubungi psikiaternya. Jika anti-depresan dihentikan secara mendadak maka dapat terjadi sindrom putus obat seperti mual, pusing, sulit tidur. Hal ini disebabkan badan anda sudah terbiasa dengan obat ini. Penurunan dosis secara bertahap dan tepat akan membuat pasien nyaman. Kondisi ini berbeda dengan putus zat pada kecanduan narkoba yang berat dan dapat dapat mengancam jiwa.

    Faktor lain yang sangat berperan dalam penanganan depresi adalah psikoterapi. Ada berbagai jenis psikoterapi yang telah terbukti efektif untuk mengatasi depresi seperti cognitive behavioral therapy (CBT) dan emotion focus therapy. Psikoterapi membantu anda untuk meningkatkan kemampuan anda untuk menghadapi pemikiran-pemikiran negatif yang menyebabkan depresi dan membantu anda untuk mengungkapkan permasalahan dalam kondisi yang terjamin kerahasiaannya. Psikiater telah disumpah untuk merahasiakan hal-hal yang disampaikan pasiennya. Proses menyampaikan permasalahan dan pemikiran akan membantu pasien untuk mengurangi beban emosinya dan menata kembali proses berpikir yang sehat
    Digest More
    // //

    Depresi Pasca Melahirkan


    Depresi Pasca Melahirkan merupakan kondisi di mana seorang Ibu mengalami depresi dalam bulan- bulan awal setelah melahirkan bayi.

    Beberapa gejala Depresi Pasca Melahirkan antara lain:
    • Merasa sedih dan hampa
    • Timbul perasaan rendah diri
    • Perubahan selera makan (umumnya penurunan nafsu makan)
    • Hilangnya gairah menjalani aktivitas sehari-hari
    • Perubahan pola tidur seperti insomnia
    • Sukar berkonsentrasi
    • Merasa terpisahkan dari bayinya
    • Memudarnya ketertarikan pada sex
    • Merasa malu, bersalah, dan rasa tidak nyaman
    • Menarik diri dari keluarga dan teman-teman
    • Suasana perasaan (mood) berubah-ubah
    • Mempunyai pemikiran melukai diri sendiri dan bayinya
    Ada beberapa faktor yang memicu Depresi Pasca Melahirkan lebih mungkin terjadi

    Beberapa kondisidi bawah ini termasuk diantaranya:
    • Adanya riwayat depressi, khususnya depresi pasca melahirkan di masa lalu
    • Jika bayi yang dilahirkan sakit atau mengalami kolik
    • Si Ibu dalam relasi yang kurang baik/ problematik
    • Jika Ibu terpapar stress 
    • Jika Ibu merasakan sedikit dukungan dari keluarga dan teman-teman
    Penatalaksanaan bagi depresi pasca melahirkan sesungguhnya serupa dengan penatalaksanaan pada depresi umumnya, seperti antidepresan dan terapi pendukungnya.

    Digest More
    // //

    Keinginan Bunuh Diri dan Melukai Diri Sendiri

    Pada penderita gangguan jiwa cukup banyak ditemui resiko berupa keinginan atau munculnya pemikiran bunuh diri dan melukai diri sendiri. Hal demikian dapat menghadirkan situasi stress bagi Anda dan orang orang yang Anda cintai.

    Beberapa hal yang menyebabkan Anda atau seseorang yang Anda kenal disekeliling Anda  berhubungan dengan resiko bunuh diri adalah:
    • Adanya masalah keuangan atau masalah hukum
    • Mengalami kehilangan atau perubahan akhir akhir ini (kehilangan orang yang dicintai, penceraian, perubahan pekerjaan) 
    • Depresi major atau berat
    • Adanya histori usaha bunuh diri 
    • Kepribadian yang impulsif
    • Memiliki halunisasi (dapat mendengar suara-suara yang tidak dapat didengar orang lain)
    Apa yang seharusnya Anda lakukan jika Anda memiliki salah satu atau lebih gejala di atas?
    •  Segera hubungi Psikiater sesegera mungkin
    • Periksakan diri ke gawat darurat rumah sakit
    • Mencari bantuandari orang-orang terdekat
    • Pindahkan atau buang semua benda yang dapat mempermudah proses bunuh diri jika memungkinkan
    • Memiliki perencanaan atau antisipasi sebelum resiko atau dorongan bunuh diri terjadi
    Sangat penting untuk mempertimbangkan pikiran dan perasaan hadirnya keinginan bunuh diri secara serius dan meminta bantuan sesegera mungkin. Tindakan dan pemikiran untuk bunuh diri bukanlah kelemahan seseorang melainkan lebih karena suatu bagian dari gejala depresi atau gangguan mental.




    Digest More
    // //

    Efek Penyalahgunaan Alkohol dan Narkoba


    Penyalahgunaan Alkohol dan Narkoba kerapkali diiringi dengan gangguan mental emosional. Cukup banyak kasus ditemui pasien menggunakan alkohol dan narkoba dalam upaya lari dari gangguan mental seperti konsumsi benzodiazepin (seringkali dikenal sebagai andep oleh para pengguna) demi mengatasi gangguan cemas yang mereka rasakan. Pada kenyataannya, penyalahgunaan alkohol dan narkoba justru dapat membuat gangguan mental bertambah parah dan ditemui konsekuensi cukup serius terlepas dari diagnosis apapun yang menyertainya. Sebagai contoh, saat penyalahguna Mr X mengalami gejala putus zat (sakaw), Mr X akan merasakan cemas yang semakin tinggi intensitasnya dan adanya konsekuensi seperti kasus hukum dan gangguan fungsi pekerjaan atau sosial. Hal demikian memungkinkan  Mr. X semakin stress dan pada akhirnya semakin memperburuk gejala cemasnya.

    Alkohol dan narkoba berpotensi menyebabkan terjadinya depresi dan gangguan cemas sehingga psikiater Anda akan merekomendasikan penghentian konsumsi alkohol dan narkoba. Lebih lanjut, jika golongan obat antipsikotik, benzodiazepin dan penstabil mood yang diresepkan diiringi konsumsi alkohol dan narkoba ma efek buruk akan berlipat ganda. Dalam hal masa terapim penyalahgunaan alkohol dan narkoba dapat kontradiksi dengan obat resep dan menimbulkan gangguan hati. Penggunaan narkoba lebih jarang ditemui daripada alkohol, namun penyalahgunaan narkoba merupakan fenomena umum pada penderita gangguan jiwa.  Narkoba berpotensi sebagai pencetus gangguan jiwa dan atau menyebabkan efek derita berrtambah berat. Bagi penderita ini dapat menyebabkan permasalahan serius dan berujung resiko kematian dengan melemahnya kesadaran. Mengapa? Karena emosi yang terluka seringkali lupa akan kualitas, dan kuantitas narkoba yang digunakan, tidak bisa diprediksi.

    Penyalahgunaan amfetamin seperti sabu sabu atau ekstasi sangat berbahaya bagi kesehatan mental oleh karena bisa jadi pencetus psikosis dan kebingungan mental. Konsumsi narkoba golongan ini juga dapat mencetuskan depresi, gangguan cemas, dan insomnia.

    Ganja dapat memperberat gejala gangguan jiwa yang sudah penderita alami dan memiliki kecenderungan bagi munculnya kondisi mental layaknya gangguan psikotik pada penggunaan jangka panjang atau saat terjadinya intosikasi.

    Kokain dapat menyebabkan psikosis, paranoid, serangan panik, depresi, dan gangguan cemas. MDMA (ekstasi) dapat menyebabkan perubahan kepribadian, kehilangan memori, gangguan konsentrasi, gangguan cemas, halunisasi, paranoid, dan depresi dalam penggunaan jangka pendek.

    Opiat seperti Heroin sangat berpotensi menimbulkan adiksi dan membatasi efek terapi. Penggunaan opiat juga berpotensi menimbulkan gejala dan gangguan mental yang sudah ada semakin bertambah parah.

    Seandainya Anda merasa memiliki permasalahan mental, direkomendasikan kepada Anda mencari terapi untuk adiksi sesegera mungkin. Mengapa? Karena disana hadir kesempatan yang lebih terbuka untuk pemulihan kualitas hidup Anda dalam menghadapi problema penggunaan alkohol dan narkoba. Merupakan sutau fakta, bahwa ketergantungan alkohol dan narkoba juga dikatagorikan gangguan mental, layaknya gangguan mood ataupun gangguan kepribadian.












    Digest More
    Powered by Blogger.